Haruskah Mencintai Produk Lokal Apa Adanya?

Selalu ada batasan dalam mencintai sesuatu. Orang pacaran bisa putus. Orang nikah bisa cerai. Suatu saat bisa aja kita gak suka lagi dengan makanan favorit kita. Suatu saat kita bisa aja gak suka lagi sama warna favorit kita. Emang pasti ada batasannya, kecuali cinta kita dan sang maha cinta. Cieee apaan sih?

Nah kali ini saya mau bahas tentang rasa cinta saya (dan kita) terhadap produk lokal. Saya termasuk orang yang lebih suka belanja produk lokal daripada produk impor, apalagi kalo urusan skincare dan makeup.

Saya seneng aja bisa jadi saksi melihat brand-brand lokal mulai tumbuh dan berkembang bahkan bisa go internasional, rasanya tuh bangga gak sih? itulah kenapa saya selalu prefer produk lokal, saya ingin berkontribusi membantu brand-brand lokal untuk berkembang.

Tapi, haruskah kita mencintai produk lokal apa adanya seperti kondisi mereka saat ini? Ngga dong. Cinta boleh, bangga boleh, tapi ada batasnya ya. Yang namanya mencintai itu justru menjadi saksi sekaligus mendukung dalam perkembangannya.

Berikut ini saya mau bahas alasan saya gak mau mencintai produk lokal apa adanya, ada beberapa hal yang masih perlu ditingkatkan lagi oleh produk-produk lokal ini.

The Complexion Product Shades Range was…..MEH!

Ini hal pertama yang selalu saya sayangkan dari produk-produk complexion dari brand lokal. Entah itu foundation, BB Cream, bedak, cushion dan lain sejenisnya.

Kebanyakan dari mereka bikin shade range-nya itu bisa dibilang gak karuan. Cuma beberapa brand yang menurut saya cukup oke lah dalam menentukan shade range meskipun kadang lompat jauh sehingga kita perlu mix 2 shade untuk mendapatkan shade yang cocok dengan kulit kita.

Kadang kalau menemukan produk yang shade range-nya ngaco saya suka mikir, yang bikin sebenernya bikin produk ini buat siapa sih? Emang ada orang yang kulitnya warna ini? Atau sengaja biar beli 2-3 shade untuk dimix? 😀

Tapi ya bisa jadi kan ada kendala di biaya produksi ya, semakin banyak shade mungkin semakin mahal biaya produksinya sementara warna kulit wanita Indonesia itu memang sangat beragam.

Masih Kurang Ramah Lingkungan

Seperti yang kita tahu, sebagian besar produk kecantikan itu kemasannya botol plastik yang sangat tidak ramah lingkungan. Daripada jadi sampah, kenapa ya gak ada brand lokal yang ngikutin the Bodyshop? Jadi kita bisa dapat poin dengan menukarkan botol produk kita yang sudah kosong ke counternya.

Ya bisa jadi biaya untuk daur ulang kemasannya lebih mahal daripada mereka beli kemasan baru. Ya, who knows kan? this is just my thought. 😀

Harga (Kurang) Bersaing

Jadi gini, jeleknya kita itu emang suka banding-bandingin ya. Di sekitar kita pasti ada orang yang memiliki pola pikir bahwa produk impor itu bagus makanya mahal. Tapi kalau disuruh mengeluarkan sejumlah uang yang sama untuk beli produk lokal, dia gak mau.

Pola pikir seperti itu semacam menuntut produk lokal harus lebih murah daripada produk impor, meskipun kualitasnya sebanding bahkan lebih baik dari produk impor.

Source : Youtube.com/Tasya Farasya

Hal ini yang perlu diubah dari pikiran kita para konsumen ya. Produk lokal mungkin tidak mengeluarkan biaya pengiriman yang besar, tapi di Indonesia ini ada uji standarisasi untuk produk kecantikan seperti uji sertifikasi dari BPOM maupun uji kehalalan dari MUI dan sejenisnya.

Satu yang pasti, itu akan membutuhkan biaya yang besar. Tujuannya juga untuk kita para konsumen juga kok, supaya kita pake produknya tuh tenang karena sudah teruji keamanan dan kehalalannya.

So, just don’t stop loving local products. Tapi teruslah mendukung dan berkontribusi supaya produk-produk lokal kebanggaan kita bisa berkembang! 😀